Masih Ada Harapan




            Pagi. Ini musim penghujan. Langit tak begitu baik hari ini. Rintik hujan turun sedari subuh. Ini pukul 6, tak jauh beda dengan pukul 5. Senin, awal pekan. Seperti biasanya, Upacara Bendera. Bel berdering 15 menit lebih awal dari jam masuk biasa. Aku berfikir, siapa yang mau upacara di hawa dingin dan basah? Mending tak usah saja. Tapi dikata tak nasionalis. Biar, ah sudahlah mari berangkat sekolah.
            Hujan belum reda juga. Gerimis masih turun di kota. Daerah zona sekolah. Hei ini apa? Jalan penuh roda empat.  Aku yang mengayuh sepeda ini, menilik ke mobil-mobil itu. apa? Satu dua orang? maksudku mobil 4x7 m hanya diisi 2 orang. oh, egonya. pantas saja jalanan penuh. Terjebak, bersama pelajar lain yang bersemangat bersepeda, untungnya tak lama. Pengendara roda dua melaju di jalan yang basah, memacu kendaraan cepat, saling mendahului, dan menerobos lampu merah, katanya sudah mau jam masuk sekolah, jam masuk kerja. Aku di jalur sepeda, melihat mereka dengan keheranan. Mereka tak memperdulikan keselamatan. Bagaimana mau sukses? Kalau disiplin saja tidak.  Biar, Ah sudahlah.
            Sampai di sekolah. Meski hujan mereda, sinar matahari belum juga nampak sinarnya. Meski begitu, para pasukan bela negara tetap melaksanakan agenda rutin mereka, bertugas melaksanakn upacara pengibaran bendera merah putih. Seluruh warga sekolah berpartisipasi, berbaris lurus, rapi.  Suara komandannya menggema ke seluruh wilayah sekolah. Pancasila dan Undang-Undang Dasar dieja dengan tegas dan jelas. Aku berfikir. Sungguh pandai, para pendiri bangsa ini. mereka benar-benar memahami karakter bangsa ini yang majemuk. Menyatukannya menjadi satu. Meciptakan landasan yang memiliki nilai-nilai luhur. Aku kagum. Namun, beginilah kenyataanya, riuh obrolan bersahutan ketika upacara.
            Aku bukan murid yang banyak bicara. Membatin? Kurang lebih seperti itulah. bukan berarti aku penakut. aku selalu menjadi yang “beda” dalam kelas. Jalanku selalu tak sama. Seperti halnya mengajak kebaikan. Bagiku, mengajak kebaikan itu lebih baik lewat aksi bukan kata-kata teoritis. Tapi yang lain, kebanyakan sebaliknya.
Minggu ini, sepertinya musim ulangan. Hari ini, 3 dari 5 mapel ada ulangan. Aku sudah belajar semalam. Aku ingin hasil yang baik dengan jalan yang baik, biarpun jalan ini kutempuh sendiri. Ketika ulangan dimulai. Suasana tenang, sepertinya ulangan berlangsung kondusif. Tapi coba ku padang suasana kelas, aku tak menyangka dalam suasana tenang, aksi curang dilakukan. Usek, kertas kemrusek, mengendap-endap menghindari perhatian guru. Sampai aku diminta menjadi penghalang pandang untuk temanku.  Aku berfikir, berkata dalam hati “Ini bibit-bibit koruptor!”.
Ketika pembagian kertas hasil ulangan, memang hasil ku rata-rata, selalu ada rasa kecewa, tapi aku mencoba tak risau. Yang dibutuhkan negri ini, orang-orang yang berkarakter baik, intelektual saja tak cukup. Dari hari ini, itulah yang pelajaran yang ku petik.
“Assalamu’alaikum..” salamku ketika masuk rumah, sepulang sekolah. “Wa’alaikumsalam..” jawab bapak. Bapak sudah pulang dari kantornya. jam 5 sore ini, beliau suka menonton acara berita favoritnya. Katanya dulu “aku ingin memantau seberapa majunya negriku ini.” aku hanya tertawa. Aku biasa ikut menonton. Akhir-akhir ini memang sedang trending topic kasus korupsi di lembaga negara, pelakunya melarikan ke luar negeri. Seorang pengusaha menyuap pejabat departemen negara untuk kelancaran aksinya mengembangkan perusahaannya. Pejabat melakukan pencucian uang pajak negara, melarikan diri ke luar negeri menjadi yang sempat menjadi buronan Interpol, tertangkap di Indonesia ketika menonton pertandingan bola tenis di Bali dan menyamar dengan rambut palsu. Haha. Aku bertanya pada bapak
“ Pak, apakah koruptor-koruptor itu dulunya nyontek ketika ulangan?” . “He? Ya.. bisa jadi, sama saja nyontek, kepengen hasil bagus, tapi caranya gak bagus. Kamu jangan gitu, yo? Itu mungkin, Bapaknya sibuk bekerja, ndak sempat ngasih tau anaknya. Hahahaha.” Jawab Bapak, kental Jawa-nya, aku selalu terhibur mendengarnya.
Pagi. Suasana masih seperti kemarin. Dini hari tadi, hujan cukup deras. Aku bersepeda ke sekolah diselimuti kabut pagi. Dingin, menyegarkan. Kanan-kiri bentang luas sawah. Menatap ke barat Gunung Merapi-merbabu. Menatap ke timur, Gunung Lawu. Ke selatan, Pegunungan Seribu. Aku bersyukur dikaruniai penglihatan masih jelas, untuk memandang alam negeriku ini. alam yang masih asri.  Susahnya, ketika sudah mencapai kota. Mereka yang terburu-buru, tak mengindahkan aturan. Lampu belum hijau, sudah jalan. menerobos, menyerempet, tak peduli bagaimana situasi. Lagi-lagi, Terjebak di kerumunan kendaraan. Pagi-pagi sudah berteriak marah. Kalau begini setiap hari, entah bagaimana jadinya.
Tiba di sekolah. Para pasukan pembela negara tetap melaksanakan agenda rutin mereka, apel pengibaran bendera Merah Putih. Memberi hormat pada Sang Merah Putih. Suara komandannya menggema dari tanah lapang ke ruang-ruang kelas. Barisan mereka tegap dan rapi. Aku kagum pada mereka. Kuat, tegas, berani, disiplin, kompak. Rasa keluarga sangat kental dalamnya. Itu membuatku sedikit senang, masih ada yang peduli dengan negeri ini. negeri yang mulai luntur rasa menghargainya.
Sejarah, pelajaran pertama hari ini. Sejarah Indonesia. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan.” Lika-liku perjuangan mempertahankan negeri ini amat terjal.untuk belajar saja, KH Agus Salim membawa minyak pet dari kampung halaman ke Jakarta, untuk dijual membiayai hidup. Aku tertarik dan antusias dengan sejarah. Sekali lagi, hanya aku yang tertarik pada sejarah. Oh, aku selalu yang berbeda. Tapi tak mengapa, aku ingat rekaman pidato terakhir Presiden Indonesia nomor wahid, Ir Soekarno. “JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah.”
Pendidikan Kewarganegaraan, wujud upaya bela negara. Diajari seluk beluk negara. Negeriku ini, punya sistem. Tertata rapi dan sistematis. Aku bangga mengetahuinya, ternyata negeriku warganya adalah orang-orang yang intelektual. Mengakui adanya kebebasan berpendapat. Hari ini, PPKn diberi tugas kelompok membuat karya tulis tentang warga negara. Aku senang dengan tugas seperti itu, bayanganku diskusi bersama menentukan isi karya tulis, sepertinya mengasyikan. Ada 4 orang dalam kelompokku. Setyaka, Baskara, aku dan Langit.
“Bas..Ka..Lan.., Karya tulis diisi apa? Kalau warga negara, banyak sih yang dibahas. ” Ku awali diskusi. 
“hak-kewajiban warga negara boleh juga.” Jawab Kaka
“ketentuan menjadi WNI boleh juga.” Sahut Langit
“Peran warga negara dalam Demokrasi boleh juga..” sahut Baskara juga
“Wah, berat itu, Bas. haha. Politik, nanti sampai bahas korupsi, dll. Yang ringan saja..” kata Langit.
“haha, begitu ya..” jawab Baskara enteng. ”Bagaimana kamu, Ran?” lanjutnya.
“Aku setuju ke pendapat Kaka, sih . sebenarnya itu semua politik, Lan ya.. kalau ingin yang ringan kita bahas yang disekitar saja, seperti pelajar boleh juga..” kataku
“Boleh...” jawab Langit.  “Boleh..” sahut Baskara.
“Okelah.. ayo kita kerjakan!” Kata Kaka.
            Aku senang dengan diskusi itu, Kaka, Baskara, dan Langit. Mereka teman-teman yang nyambung denganku. Meski terkadang, sikap mereka berubah menyebalkan pada situasi lain. Aku optimis, karya tulis ini akan menjadi terbaik. Kami mengerjakannya dengan senang hati. Beberapa jam berlalu,  karya tulis sudah selesai dan siap dipresentasikan.
“Lan, kamu presentasi ya?” tanya Kaka
“Jangan aku, Ka! Kau tahu sendiri bagaimana bicaraku di depan orang banyak.” Tolak Langit.
“Rana saja, dia kan yang paling paham dengan isi karya tulis ini..” kata Baskara dengan enteng.
“He?” aku kaget. “Oh, iya. Kamu, Ran.” Kata Kaka.”Ya….tak apa.”
Sebenarnya aku trauma presentasi, kala itu, presentasiku tak didengarkan. Bahkan dikomentari negatif. Tapi kurasa aku harus menghilangkannya, dan semoga tidak seperti itu lagi. Siap-siap presentasi.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Nama saya Arana Rizki. Dari kelompok D, mewakili Setyaka, Baskara, dan Langit untuk presentasi hasil karya tulis.  Karya Tulis kami berjudul Hak-Kewajiban Pelajar sebagai Warga Negara. Hak-kewajiban warga negara diatur dalam undang-undang. Lebih spesifik untuk kita para pelajar. Intinya kewajiban kita adalah membela negara melalui ikut serta pembelajaran pendidikan kewarganegaraan, belajar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa yang keseluruhannya terkandung dalam Pancasila. Sebagai contoh nilai luhur tentang kejujuran dalam bekerja. Hak kita adalah intinya untuk mendapatkan pendidikan yang layak, serta perlindungan dari segala tindak kekerasan. Sekian .” Kataku, berhenti sebentar. “emmm… Apakah ada yang perlu ditanyakan?” tanyaku sedikit gugup. Melirik ke seluruh sudut kelas. Oh, tak ada yang mendengarkan. Hanya kelompokku sendiri yang memperhatikan.
“Baik, Anak-anak ada yang perlu ditanyakan dari presentasi kelompok ini?” Bu Guru mengulangi pertanyaanku. Semua pandangan tertuju padaku. Ada temanku yang mengangkat tangan.
“sebenarnya, saya tidak ingin bertanya tapi ingin mengomentari sedikit, boleh kah?” tanya Ge (Bukan nama sebenarnya)
“Boleh-boleh saja..” jawabku . “kenapa sih, kamu memilih sesuatu yang rumit? Sesuatu yang bukanya memudahkan tapi malah menyulitkan?” tanya nya agak sinis, aku berfikir ini pasti akan menyudutkan. “Yaa.. ini tidak rumit sebenarnya. Intinya hanya hak-kewajiban warga negara.” Jawabku .”Yaa.. itu bagimu, karya mu itu kan bukan untuk dirimu sendiri! Kalau seperti itu, mana mungkin bisa diterima orang banyak?” mulai naik intonasi. “Ya.. terima kasih.” Aku tak mau melanjutkannya. Ku tutup prensentasinya. Duduk kembali, mataku sedikit berkaca-kaca. Ini sudah yang kedua kalinya.
            Pulang. Aku masih merenungi kejadian tadi. Bertanya-tanya kenapa dengan diriku ini? apanya yang salah? Ketika berbicara detail dikata rempong. ketika banyak bertanya dikata kepo.  Apa karena aku paling berbeda di kelas? Hei ini apa? Pulang pun, juga harus terjebak di kerumunan kendaran?! Siang-pagi tak ada bedanya.  Membosankan tinggal di sini. Warganya tak sedikit yang tak disiplin. Kiprah pejabatnya penuh kebohongan dan trik . Karyaku tak dihargai. Katanya negeri ku ini mengakui adanya kebebasan berpendapat. Tapi ternyata teori belaka. Buktinya aku dikata rempong, kepo.  Aku tau, tak sedikit mereka yang minoritas bisa tumbuh kuat di daerah sendiri, tapi kurasa aku tak bisa tumbuh kuat seperti mereka di sini. Aku teringat, aku mendapat undangan mengirim karya tulis untuk mendapat beasiswa di salah satu sekolah di Aachen, Jerman. Akan ku coba, siapa tahu mereka menghargai karyaku.
            Sampai di rumah, aku bekerja keras, menyelesaikan karyaku dan memenuhi undangan tersebut. Beberapa minggu setelahnya. Aku menerima pos dari sekolah itu dan karyaku diterima. Aku dinyatakan mendapat beasiswa sekolah di sana sampai lulus. Aku sangat senang menerimanya. Besok lusa, aku bisa langsung berangkat.
Jerman adalah negara dengan wilayah kecil. Kalau dibandingkan dengan Indonesia, jauh lebih luas Indonesia.  tapi, warganya begitu teratur. setiap ke sekolah, bersama teman yang lain dan warga yang akan bekerja berjalan kaki. Aku senang di sini, teman-temanku ramah tamah, kami senang berdiskusi, kumpul di gazebo dekat sekolah tiap hari. Aku sudah membuat banyak karya tulis di sini, mereka menerima karyaku dengan baik. Aku jadi teringat ketika aku sekolah di Indonesia, masa-masa itu masih teringat. 1,5 tahun aku di sini. Apa kabar Indonesia? masihkah kau seperti dulu? Saat berkumpul ini, aku berinisiatif untuk bertanya-tanya dengan teman-temanku dari negara lain. 1“Hey, my friends.. may I ask you something?” tanyaku. 2“yes of course, what happen?” jawab Ben, dia dari Britania. 3“What’s happen Arana?” sahut Beatrice, dia dari Illinois. 4“Nothing, hmm..What do you know about my country Indonesia?” tanyaku sedikit ragu. 5“Oh, Indonesia. Balinesia? Javanese? Then what else?? Jakarta!! I think Indonesia is a  beautiful country. I watched on internet, there were many cultures.. that’s  all awesome!” Jawab Ben, penuh pujian. 6“Did you say it honestly, Ben? Hahaha..” Sebenarnya aku kurang yakin dengan jawaban Ben yang penuh pujian. Aku coba memastikan kejujurannya saja, mengatakan hal-hal tersebut.  7“Actually no… hahahaha.” Jawab Ben penuh canda. 8“What about you Anna?” ku tanya Anna yang sibuk bermain dengan laptopnya. Anna, dia berasal dari Singapura, sedikit paham Bahasa Indonesia. 9Jadi,Ran. I am just read an international news, its from your country. that the one of  Indonesian ministry was a great corruptor,  and he escaped from Indonesia. now he is wanted by International Police. And again, I am just read that Indonesia is country with high-corruption case number 2nd in the world. Sorry, Arana, I don’t mean to tease you. I am just tell what actually I read last minute.” Kata Anna. 10“Calm, Ann. Its okay.” Jawabku. Mendengarnya, aku terdiam, sedikit merunduk. Aku membayangkan bagaimana resahnya pemerintahan Indonesia. berita-berita pasti akan penuh bahasan itu. hei, ,mengapa aku peduli? Aku kan dulu dicampakan? Karyaku tak dihargai? Biarkan mereka menikmati pahitnya, karna membiarkan orang tak jujur. 11“Wow, corruption. Morale decline..” kata Ben, sedikit terkejut 12“I am thinking, In that situation, is there any people who care? Maybe try to make it not happen anymore in the future?” Kata Anna. Aku mendongak, dalam hati aku merasa tersindir. Tapi aku tau Ann, tak bermaksud seperti itu. 13“maybe yes, maybe not.. who knows?” Jawab Ben enteng. 14“Well, Jika tak peduli salahkah? Is it wrong? After you have been hurt?! You still want to care?!” intonasiku sedikit meninggi. Aku ingin memancing empati mereka. Bagaimana rasanya, setelah disakiti, untuk peduli lagi kurasa  15“So you chose to revenge? That’s not good, Ran. I know how it feels like. I have ever been like you.” Kata Anna. 16“Every country, had problems, Ran. My country, the teenagers likes to drug, free sex, etc I don’t like it. I am like a different people there. So I chose to escape. Here.” Sahut Beatrice. Sepertinya dia juga memiliki masalah yang sama denganku. Tak terasa sudah pukul 9 malam. Waktunya kembali ke asrama. Aku masih merenungi kata Anna tadi. Sepertinya memang benar, selama ini aku seperti balas dendam.  Sambil berjalan, aku ingat kata-kata Bapak. Sarjana terbaik adalah yang membawa kemajuan di kampung halamannya. Dan amanantnya ketika aku akan masuk ke pesawat “Jadilah sarjana terbaik, Nak.”. ketika aku baring di bed 2 x 4 ini, Teringat dengan pemandangan pagi ketika berangkat ke sekolah, aku jadi rindu. Aku berfikir. Di atas tempat tidur ini, mulai mengubah orientasi, aku harus membawa kemajuan di kampong halaman. Aku katakan pada diriku sendiri bahwa “Masih Ada Harapan.” Tinggal menyelesaikan 1,5 tahun. Semangat untuk negeriku.
Akhirnya, lulus juga. Kesabaranku berbuah manis. Menjadi salah satu lulusan terbaik. Aku sangat bersyukur. Aku berterimakasih banyak pada rekan seperjuanganku di sini, mereka yang dari berbagai belahan bumi. Aku tersadar, bukan pilihan bijak ketika kita memilih acuh tak acuh, meninggalkan negeri sendiri dalam kemunduran. Kini, aku harus pulang ke tanah tumpah darah. Aku ingin menjalankan amanat Bapak. Rinduku pada alam tanah air, amatlah sangat. Sempat aku, ditawari untuk mengajar di salah satu universitas di Munich. Tapi, aku menolaknya. Supaya ilmu ku juga di dapat oleh anak negeri.
Sejarah menulis. Para pendiri bangsa ini pun, juga bersekolah di luar negeri. Semata-mata tujuannya untuk menimba ilmu, untuk membangun bangsa, hingga sebesar ini. Ir. Soekarno, Moh.Hatta, Radjiman Widyodiningrat, dan mereka yang turut serta membangun negeri ini. negeri ini kaya, jangan ditanya. Tongkat dan batu pun jadi tanaman. Aku bangga, lahir di tanahnya. Aku akan mengajar saja. Aku tak pandai mengangkat senjata. Yang terpenting, karakter sebelum Pengetahuan. Setidaknya masih ada harapan, untuk ku membela negeri ini. mumpung darah muda masih mengalir cepat. Nafasku belum cepat terengah-engah. Untukmu Indonesia
Klaten, 14 April 2016

             
           

Popular Posts