Mengakhirkan Permusuhan
Kebencian hadir setiap mengingat itu. Ibuku dimaki-maki oleh orang yang dia sendiri masih punya pertalian saudara dengan keluarga bapak. Kala itu merupakan waktu dimana berapapun usiamu, kau dituntut paham pada realita yang terjadi. Yakni pertentangan hak waris. Semua versi cerita sudah kudapatkan. Kebencian semakian memuncak kala mengerti bahwa ibu adalah pendatang, tidak tahu menahu asal-usul tanah yang ia bangun rumah bersama bapak, namun paling dimaki oleh orang tadi.[1] Malang ibuku, hingga masa akhir hayatnya masih medengar makian itu. Menyaksikan itu, kebencianku semakin memuncak. Ibuku dibunuh dan tidak ada ampun bagi seorang pembunuh.
Kurang lebih sudah 5 tahun, kebencian itu teralihkan oleh aktivitas sehari-hari. Hidup saat ini tidak lagi banyak menyoal pertentangan hak waris tadi. Kata bapak tidak perlu digubris. Bapak tetap ikut pengajian seminggu 4 kali. 1 pengajian untuk menggantikan ibu. Dan kini keadaan berubah, orang tadi tidak berganti memaki bapak. Padahal beliau lah yang paling berurusan dengan hak waris. Ku ketahui akhir-akhir ini bapak sembunyi-sembunyi membagikan beras atau makanan ke saudaranya termasuk orang tadi. Sangat tidak rasional. “Nduk, tolong menimbang beras 6 plastik. Yang 3 kilo 4 plastik yang 5 kilo 2 plastik. Biar semua merasakan panen.” Perintah bapak di sela waktu dzuhur. Aku mengiyakan saja. Selesai jamaah dzuhur sudah selesai mengemas. “Pak, berasnya mau diberi ke siapa saja?” tanyaku. Bapaku menjawab masih menunjuk satu-satu plastik beras itu. Sisa satu terakhir, aku bertanya “Yang ini untuk siapa, Pak?”. “Ini buat orang tadi.” Jawab bapak. Aku tidak terkejut dengan jawaban itu. Karena ini bukan pertama kali bapak menyisakan bagian untuk orang tadi. Tapi tetap merasa kecewa dan sedikit marah. “Apa bapak itu tidak ingat to!” kataku mengeluh pada saudaraku. Tapi kemudian merasa perlu juga mengetahui. Minimal cuma berasumsi. Memikirkan itu, aku langsung bergegas ke dapur memasak sayur.
Di dapur ini tangan kaki bergerak ke sana kemari, tapi pikiranku belum beralih. Sudah banyak cerita yang kudengar dari macam orang soal kasus itu. Termasuk penuturan ibu sendiri dahulu. Ibu tidak akan melupakan tragedi itu, ketika dilempari batu lewat jedela dan tidak akan melupakan juga kebaikan paman bapak[2] yang sembunyi-sembunyi mengantarkan makanan sesederhana mangga lewat pintu belakang. Ironisnya, paman bapak itu adalah bapak dari orang tadi. Cerita ini valid setelah mendengar penuturan bapak, bahwa Mbah Baimin itu berbeda di antara keluarganya. Memikirkan ini sontak mulut ku bergumam. Apakah sejarah akan berulang?
Mencoba berefleksi dari sejarah itu. Jika bapak kini suka sembunyi-sembunyi membagikan pangan ke orang tadi, ini mirip apa yang dilakukan Mbah Baimin ke Ibu. Jika aku benci bapak melakukan hal itu, artinya aku sama dengan orang tadi. Dan permusuhan tiada akhir. Kini aku mengangguk-angguk sambil mengaduk sayur. Jika demikian, maka sejarah boleh berulang namun dengan sikap yang beda. Jika bapak ingin mengakhirkan permusuhan ini, maka aku dan saudaraku harus mendukung bapak. Supaya generasi besok tidak mewarisi permusuhan dan terjadi seperti tragedi ibu dulu. Selesai berefleksi, matang juga sayurnya. Segera kumatikan kompor dan melahap sayurnya bersama-sama.
Ditulis untuk
mengingatkanku besok,
Klaten, 22 April 2020
Allah maha adil dan
paling berhak mengadili antara ibu dan orang tadi kelak.