Taksonomi
Macam-Macam
Klasifikasi Makhluk Hidup (Sistem Alami, Sistem Buatan dan Sistem Filogenik) -
Seiring dengan perkembangan zaman, sistem klasifikasi makhluk hidup dilakukan
dengan alasan-alasan tertentu yang dimulai dan dirintis oleh ilmuwan terdahulu
dan terus berkembang sampai sekarang.
Hal ini
dikarenakan adanya penemuan-penemuan baru yang sesuai dengan perkembangan
peradaban manusia. Ada beberapa alasan yang digunakan para ahli sebagai dasar
sistem klasifikasi.
Untuk itulah sistem
klasifikasi, dapat digolongkan menjadi tiga golongan/kelompok, yaitu sistem
alami, sistem buatan, dan sistem filogenik.
1. Klasifikasi Sistem Alami
http://sibarasok.blogspot.com/2013/07/macam-macam-klasifikasi-makhluk-hidup.html
Kita sudah mengetahui bahwa
klasifikasi pada dasarnya berpijak dari adanya persamaan. Hal ini dapat kita
ketahui dengan mengamati makhluk hidup secara morfologi. Misalnya, kita
mengamati binatang kucing, anjing, sapi, kuda, dan harimau.
Jika kita lihat secara
alami, dapat kita ketahui bahwa kelima binatang itu mempunyai empat kaki,
sehingga membentuk suatu kelompok seperti yang dikehendaki alam, yaitu kelompok
binatang yang berkaki empat. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa klasifikasi
sistem alami merupakan terbentuknya suatu kelompok-kelompok makhluk hidup
secara alami.
Tokoh klasifikasi sistem
alami adalah Aristoteles, seorang berkebangsaan Yunani pada tahun 350 SM.
Beliau membagi makhluk hidup menjadi dua dunia (kingdom), yaitu hewan dan
tumbuhan. Dunia hewan ini dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan habitat
dan perilakunya, sedangkan tumbuhan dikelompokkan berdasarkan ukuran dan
strukturnya.
2. Klasifikasi Sistem Buatan
Dibandingkan sistem
klasifikasi secara alami, sistem klasifikasi buatan lebih baik, sempurna, dan
mudah dipahami apabila dibandingkan sistem klasifikasi sebelumnya. Klasifikasi
ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl Von Linne (1707-1778) yang dikenal
dengan nama Carolus Linnaeus, seorang ahli botani berkebangsaan Swedia. Beliau
dinobatkan sebagai “Bapak Taksonomi”.
Klasifikasi makhluk hidup
menurut Linnaeus didasarkan atas persamaan dan perbedaan struktur tubuh makhluk
hidup, dengan cara-cara berikut.
a. Mengamati dan meneliti
makhluk hidup, yaitu persamaan ciri struktur tubuh luar maupun ciri struktur
tubuh dalam dari berbagai jenis makhluk hidup.
b. Apabila ada yang memiliki
ciri struktur tubuh sama atau mirip dijadikan satu kelompok, adapun yang
memiliki ciri berlainan dikelompokkan tersendiri.
c. Memberikan istilah
tertentu untuk setiap tingkatan klasifikasi yang didasarkan pada banyak
sedikitnya persamaan ciri pada setiap jenis makhluk hidup yang dikelompokkan.
Tingkatan klasifikasi yang
digunakan oleh Linnaeus adalah sebagai berikut.
Keterangan :
Kingdom untuk hewan dan
Regnum untuk tumbuhan
Filum untuk hewan dan
Divisio untuk tumbuhan
Jika kita perhatikan
klasifikasi tersebut terdiri atas beberapa tingkatan, mulai dari kelompok
besar, kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Selanjutnya, kelompok
kecil dibagi menjadi beberapa kelompok kecil lagi sehingga akan terbentuk
kelompok-kelompok yang lebih kecil yang hanya mempunyai anggota satu jenis
makhluk hidup.
Tiap tingkatan kelompok
inilah yang disebut takson. Takson disusun dari tingkat tinggi ke tingkat
rendah. Dengan demikian, semakin tinggi tingkatan takson, maka semakin umum
persamaan ciri-ciri yang dimiliki oleh suatu makhluk hidup. Sebaliknya, semakin
rendah tingkatan takson, maka semakin khusus persamaan ciri-ciri yang dimiliki
oleh suatu makhluk hidup. Biasanya tingkatan ini memiliki jumlah makhluk hidup
yang sedikit. Agar lebih jelas, perhatikan Gambar berikut ini.
Untuk memudahkan dalam
pengelompokan makhluk hidup yang sangat banyak ragamnya, maka disusunlah suatu
aturan pengelompokan. Pengelompokan dilakukan pada tingkatan tinggi sampai ke
tingkatan rendah seperti berikut ini.
a. Kingdom/Regnum
(Kerajaan/Dunia)
Tingkatan takson ini
merupakan tingkatan tertinggi untuk makhluk hidup. Semua hewan dimasukkan dalam
kingdom Animalia dan semua tumbuhan dimasukkan dalam kingdom Plantae.
b. Filum atau Divisio (Keluarga
Besar)
Apabila kita mengelompokkan
suatu makhluk hidup dalam kingdom, maka dengan melihat persamaan ciri-cirinya
akan dimasukkan ke dalam suatu keluarga besar. Keluarga besar tersebut
dimasukkan dalam filum untuk jenis hewan dan dimasukkan ke dalam divisio untuk
jenis tumbuhan. Misalnya seperti hewan yang terlihat pada Gambar diatas.
Filum Chordata merupakan
hewan bernotokorda dan hewan bertulang belakang. Ada juga hewan yang memiliki
kaki berbuku-buku dan kutikula yang keras dimasukkan dalam filum Arthropoda.
Penamaan filum hewan tidak
memiliki akhiran yang khas, sedangkan penamaan divisio tumbuhan diberi akhiran
yang khas, misalnya phyta dan mycota. Tumbuhan yang berbiji dimasukkan dalam
divisio Spermatophyta, jamur berbasidium dimasukkan dalam divisio
Basidiomycota.
c. Kelas
Tingkatan takson ini lebih
rendah dari kelompok takson filum atau divisio, artinya apabila kelompok
makhluk hidup dalam divisio/filum memiliki ciri-ciri yang sama, maka dimasukkan
dalam satu kelas.
Contoh kelas pada hewan,
yaitu hewan menyusui/Mamalia, misalnya anjing, kucing, kelinci, dan lain-lain.
Adapun kelas pada tumbuhan
ada dua, yaitu tumbuhan berbiji berkeping satu dan berkeping dua. Dengan
demikian, tumbuhan mempunyai divisio: Spermatophyta, kelas: Monocotyledonae dan
Dicotyledonae.
d. Ordo (Bangsa)
Tingkatan takson yang lebih
rendah dari kelas adalah ordo. Pada tumbuhan, nama ordo pada umumnya diberi
akhiran ales, sedangkan pada hewan tidak memiliki akhiran.
Contoh dari hewan mempunyai
ordo Carnivora (bangsa pemakan daging), Omnivora (bangsa pemakan
tumbuh-tumbuhan).
Adapun pada tumbuhan
contohnya kelas Dicotyledonae mempunyai ordo Graminales (bangsa
rumput-rumputan), Rosales (bangsa mawar-mawaran)
e. Famili (Suku atau
Keluarga)\
Famili merupakan tingkatan
takson di bawah ordo. Pada tingkatan famili ini terdapat suatu kelompok yang
berkerabat dekat dan memiliki banyak persamaan ciri. Nama famili pada tumbuhan
pada umumnya diberi akhiran aceae, sedangkan untuk nama hewan diberi akhiran
idae.
Contoh keluarga hewan, yaitu
Canidae (keluarga anjing), Falidae (keluarga kucing). Contoh keluarga tumbuhan
adalah Solanaceae (keluarga kentang), Rosaceae (keluarga mawar).
f. Genus (Marga)
Takson genus adalah nama
takson yang lebih rendah dari famili. Nama genus terdiri atas satu kata yang
diambil dari kata apa saja, bisa dari nama hewan atau tumbuhan, zat kandungan,
dan sebagainya. Huruf pertamanya diawali dengan huruf kapital dan ditulis
dengan miring atau ditulis tegak dengan digaris bawah. Contoh untuk hewan
adalah Canis (marga anjing), Felis (marga kucing), Taenia (marga cacing).
Adapun contoh pada tumbuhan, yaitu Rosa (marga mawar), Annona (marga sirsak dan
srikaya), dan Solanum (marga terung-terungan).
g. Species (Jenis)
Species merupakan tingkatan takson
paling rendah dan menjadi unit atau satuan dasar klasifikasi. Species adalah
kelompok makhluk hidup yang dapat melakukan perkawinan antarsesamanya dan akan
menghasilkan keturunan yang subur (fertil). Penulisan kata species sama seperti
penulisan dalam genus, hanya pada species terdiri atas dua kata, yaitu kata
yang berada di depan merupakan nama marga (genus), sedangkan kata yang kedua
menunjukkan jenisnya. Untuk kata yang kedua, huruf awalnya tidak perlu
menggunakan huruf kapital. Contohnya: Canis familaris (anjing), Taenia solium
(cacing pita), Rosa gallica (mawar), Carica papaya (pepaya), Oryza sativa
(padi).
Pernahkah kamu menemukan
dalam satu species beberapa makhluk hidup memiliki ciri khusus ? Hal tersebut
dinamakan sebagai varietas atau ras yang bermakna variasi. Dalam satu species
variasi tumbuhan disebut varietas, adapun variasi dalam satu species hewan
disebut ras. Contohnya: Hibiscus sabdarifa var alba (rosela varietas putih).
Pada umumnya suatu makhluk
hidup mempunyai nama lokal dari setiap daerah, misalnya kota, negara. Contoh:
nama buah pisang, orang Jawa Tengah sering menyebutnya “gedang”. Apakah orang
Sumatera mengerti bahwa yang disebut “gedang” berarti pisang ? Sedangkan orang
Jawa Barat menyebut “gedang” untuk buah pepaya. Agar tercipta komunikasi yang
lebih mudah antara pihak satu dengan pihak lain, setiap makhluk hidup harus
memiliki nama yang dikenal di seluruh dunia. Tujuannya agar tercipta suatu
sistem tata nama yang sederhana, mudah dipahami, dan berlaku secara
internasional. Oleh sebab itu, para ilmuwan mengambil suatu keputusan
berdasarkan kesepakatan internasional dengan menggunakan metode binomial
nomenclature, yang diciptakan oleh Carolus Linnaeus. Binomial nomenclature
adalah pemberian nama dengan dua nama atau disebut dengan tata nama ganda,
yaitu selalu menggunakan dua kata nama genus dan nama species.
Ketentuan penamaan dengan
tata nama ganda ( Binomial nomenclature ) adalah sebagai berikut :
1) Nama suatu species
terdiri atas dua kata, kata pertama merupakan nama genus dan kata kedua
merupakan penunjuk jenis.
2) Huruf pertama nama genus
ditulis dengan huruf kapital, sedangkan huruf pertama nama penunjuk jenisnya
ditulis dengan huruf kecil.
3) Nama species menggunakan
bahasa Latin atau yang dilatinkan.
Misalnya: Bambusa spinosa
(bambu berduri), Carica papaya (pepaya).
4) Nama species dicetak
miring, digaris bawah, atau dicetak dengan huruf yang berbeda dengan teks lain.
5) Apabila nama tumbuhan
terdiri atas lebih dari dua kata, kata kedua dan berikutnya harus digabung atau
diberi tanda penghubung.
Misalnya: Hibiscus
rosasinensis atau Hibiscus rosa-sinensis.
6) Apabila nama hewan
terdiri atas tiga kata dan nama tersebut bukan nama species melainkan nama
subspecies (anak jenis), yaitu nama takson di bawah tingkat species maka
ditulis terpisah,
contohnya Felis maniculata
domestica (kucing rumah/piaraan).
7) Nama species juga
mencantumkan inisial pemberi nama species tersebut,
contohnya Zea mays L. (yang
memberi nama jagung adalah Linnaeus).
Coba berikan nama dalam
tingkatan klasifikasi mulai dari yang paling tinggi sampai tingkatan paling
rendah untuk tumbuhan rumput-rumputan, misalnya padi (Oryza sativa) dan untuk
hewan, misalnya kucing (Felis catus). Diskusikan hasilnya dengan teman mu.
3. Klasifikasi Sistem
Filogenik
Ingat kembali tentang teori
evolusi dari Charles Darwin yang di pelajari di SMP/MTs. Bertolak dari teori
evolusi Darwin tersebut muncullah klasifikasi sistem filogenik. Sistem
klasifikasi ini dikelompokkan berdasarkan jauh dekatnya kekerabatan
antarorganisme atau kelompok dengan melihat keturunan dan hubungan kekerabatan.
Organisme atau kelompok yang berkerabat dekat memiliki persamaan ciri yang
lebih banyak bila dibandingkan dengan organisme atau kelompok yang berkerabat
jauh. Cara mengelompokkan makhluk hidup dilakukan dengan mengamati ciri-ciri
secara morfologi, anatomi, fisiologi, dan perilaku.